70 Tahun LAI dan Ke-Indonesiaan

0
50

70 Tahun LAI dan Ke-Indonesiaan

Oleh:  Sigit Triyono

Tanggal 9 Februari tahun 2024 adalah ulang tahun LAI ke 70. Perjalanan yang layak dirayakan dan disyukuri karena berbagai masa yang tidak mudah, berhasil dilewati berkat anugerahNya.
Menjelang perayaan untuk mensyukuri ulang tahun LAI sebagai Lembaga Alkitab Kristen Protestan di Indonesia, setidaknya ada tiga hal yang dapat menjadi refleksi bersama untuk bekal melangkah ke depan.
Masa depan yang kemungkinan masih banyak hal dan dinamika akan terjadi.

Pertama, LAI adalah bagian dari sejarah penerjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu pada tahun 1629 oleh Albert Corneliusz Ruyl, yang termasuk karya terjemahan Alkitab pertama di luar Eropa.

Karya terjemahan ini menjadi fondasi karya-karya penerjemahan Alkitab di berbagai wilayah di Nusantara.
Sesudah karya fenomenal di atas, layanan di bidang Alkitab di bumi Nusantara sebelum Indonesia merdeka, dilakukan oleh Lembaga Alkitab Inggris dan di lanjutkan oleh Lembaga Alkitab Belanda sampai berdirinya LAI pada 1954.

Semua misionaris yang datang ke Nusantara dan berbagai gereja yang terus bertumbuh telah memanfaatkan karya-karya terjemahan Alkitab baik yang dilakukan oleh Lembaga Alkitab Inggris, Lembaga Alkitab Belanda, maupun oleh LAI.

Lembaga-lembaga Alkitab ini bisa dikatakan sebagai logistiknya gereja-gereja di bidang Alkitab.
Perjalanan sejarah menjadikan LAI bertumbuh bersama dan memiliki kedekatan khusus dengan gereja-gereja di Indonesia.

Kedua, berdirinya LAI tidak terlepas dari semangat kemandirian bangsa Indonesia pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Betapa tidak, para pendiri LAI adalah aktivis gereja yang kental dengan semangat ekumenis dan mendorong kemandirian sebagai bagian dari negara yang baru berdiri.

Dengan semangat ini maka semua gereja yang ada di Indonesia menerima secara penuh LAI sebagai mitra setia dalam membina iman jemaatnya.
Hal lain, pentingnya kebutuhan penyimpanan semua naskah terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa di Indonesia, maka keberadaan LAI sangat dibutuhkan sebagai pusat penyimpanan naskah terjemahan Alkitab.

Hal ini sangat memudahkan, bila suatu saat gereja-gereja atau mitra lain membutuhkan naskah-naskah terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa di Indonesia.

Semakin dekat dan eratlah LAI dengan gereja-gereja karena terpusatnya layanan Alkitab mulai dari penerjemahan, produksi, penyebaran sampai penyimpanan naskah Alkitab yang sudah diterbitkan.

Ketiga, perkembangan dan pertumbuhan LAI tidak pernah lepas dari peran gereja-gereja dan berbagai mitra di Indonesia.

LAI yang memiliki mandat menerjemahkan, memproduksi, menyebarkan Alkitab dan mengupayakan agar Alkitab menjadi pedoman hidup umat, dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi selalu melibatkan gereja-gereja dan mitra lain baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kemitraan dengan berbagai pihak bagi LAI menjadi suatu keniscayaan agar dapat bertahan, berinovasi dan terus maju bersama.

Mandat yang dijalankan LAI menjadi lebih realistis untuk dilaksanakan oleh karena dukungan penuh berbagai mitra.
Kemitraan yang dibangun oleh LAI bukan saja meneruskan kesejarahan dengan mitra internasional, namun juga mitra dalam negeri yang justru lebih variatif dan semakin digdaya.

Ketiga catatan reflektif di atas secara langsung berkaitan dengan layanan LAI yang selalu terkait dengan semangat kebangsaan dan kebersatuan Indonesia.

Alkitab di Indonesia tidak hanya menumbuhkan iman para pembacanya, tetapi dalam praktiknya juga terbukti secara simbolik mempersatukan gereja-gereja di Indonesia apapun denominasi dan konfesinya.

Kebersatuan kita adalah juga gambaran riil penerapan sila ketiga dalam Pancasila: *Persatuan Indonesia.* (ST 14.1.2024)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here